Begitu dekatnya kehidupan orang Gayo dengan kopi hingga ada ungkapan yang mengatakan ‘jika tidak menanam kopi, paling tidak meminumnya’. Indonesia adalah negara pengekspor kopi ketiga terbesar di dunia. Tapi Kopi Gayo merupakan salah satu produk kopi terbaik dunia. Ciri khasnya adalah sebagai kopi organik dan merupakan jenis kopi Arabika. Arabika merupakan varitas unggulan karena rendah tingkatan asamnnya namun aroma dan rasa kopinya kuat.
Sejarah kopi di Gayo tidak telepas dari cerita penjajahan yang dilakukan Belanda di Indonesia. “Bahkan istilah Gayo Mountain Coffee baru
pada tahun 2012 lalu dikembalikan Belanda kepada orang-orang Gayo, “
lanjut Kin, pemilik kedai kopi ‘Super Gayo’ di Wolter Monginsidi 59
Kebayoran. Orang Gayo kini bisa menyebut kopi mereka sebagai kopi
Dataran Tinggi Gayo.
Kopi yang umumnya dinikmati orang
Indonesia bukanlah kopi Gayo. Kopi Gayo lebih banyak dinikmati para
pecinta kopi di AS, Jerman, Belanda dan Korea. Untuk tujuan lebih
memasyarakatkan citarasa kopi Gayo, Kin sebagai putra Gayo membawanya ke
Jakarta. Dengan niat ini, Kin yang juga seorang musisi grup band The
Fly, membuka kedai kopinya. Kedai ini menampilkan seni penyajian kopi
terbaik dengan harga terjangkau. Inilah sajian kopi di Kedai milik Kin:
Kopi hitam Gayo umumnya disajikan sebagai
kopi tubruk di Gayo. Namun di Kedai ini, penyajiannya menggunakan cara
umum orang Aceh yaitu dengan disaring secara tradisional. Karena itu
mereka menamakannya Kopi Saring. Disajikan dengan pilihan gula pasir atau gula aren secara terpisah. Ada citarasa caramel dan dark chocolate ketika dihirup.
“Kopi hitam sebaiknya dinikmati tanpa gula,” ungkap sang barrista.
Jika harus dinikmati dengan gula, cobalah gaya orang Gayo. Mengunyah
sedikit gula aren lalu menghirup kopi hitam panas dan mencampurnya di
mulut. Sajian Kopi yang di Aceh diberi nama Kertup ini memang mantap rasanya.


No comments:
Post a Comment